
ISHARSONO
Kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi jika Jepang menang dalam perang dunia ke dua. Namun kenyataannya Jepang kalah. Rakyat Japang seolah tidak percaya ketika Kaisar Jepang mengumumkan Jepang menyerah. Bom Atom itu mengakhiri perlawanan Jepang.
Ketika perang dunia ke dua berakhir, di Eropa dikeluarkanlah Marshal Plan untuk membangun ekonomi Eropa. Jepang menyadari kekalahannya dalam perang dunia karena dia tertinggal dalam berbagai bidang ilmu. Amerika Serikat lebih maju dalam tehnologi senjata sehingga mampu menciptakan bom atom. Dan bom atom itu digunakan Amerika Serikat untuk meluluhlantakkan Jepang, tepatnya untuk menghancurkan di dua kota penting di Jepang, yaitu Hirosima dan Nagasaki.
Sehabis kalah perang, timbul kesadaran di Jepang untuk meningkatkan mutu pendidikan. Di tengah puing kehancuran akibat bom, yang diutamakan Jepang adalah membangun dunia pendidikan. Sekolah mendapat prioritas utama untuk ditangani.
Di Jepang guru amat di hormati. Akibatnya mutu pendidikan meningkat tajam. Mutu pendidikan Jepang amat mengkwatirkan Amerika Serikat, sehingga di Amerika Serikat kita tahu negara ini kemudian muncul kesadaran baru untuk memulai (lagi) gerakan memperbaiki pendidikan dasar.
Masyarakat Amerika terutama kalangan pengusaha mulai menyadari bahwa sumber daya manusia mereka mulai tertinggal dari Jepang. Murid Jepang rata-rata mempunyai ketrampilan dalam bidang matematika dan sains yang lebih tinggi dari Amerika Serikat. Belum lagi semangat kerja anggakatan muda Jepang yang amat tinggi.
Amerika Serikat mulai mengkwatirkan bahwa Jepang akan mendominasi ekonomi dunia. Hillary Clinton (istri Bill Clinton) merupakan orang yang aktif dalam reformasi pendidikan di Amerika Serikat. Ia memprakarsai gerakan refomasi pendidikan di Amerika. Biaya reformasi pendidikan dasar di Amerika Serikat dipikul oleh pemerintah bersama kalangan pengusaha.
Kalangan Pengusaha menyadari bahwa pertumbuhan bisnis mereka amat ditentukan oleh ketersediannya sumber daya manusia di Amerika serikat. Kalau kita menilik kebelakang, pernah juga pendidikan di Indonesia mengalami masa Jaya. Pernah seorang prajurit KKO pada masa konfrontasi dengan Malaysia ditangkap di Singapura. Oleh TV Malaysia dia diwawancarai apa hasil kemerdekaan Indonesia yang dia rasakan. Jawabannya adalah, pendidikan yang dapat dinikmati secara merata. Namun jawaban tersebut sudah kurang tepat saat ini. Pendidikan kita sudah diwarnai oleh rona warna masalah. Sehingga sampai saat ini angka anak putus sekolah, dan pengangguran amat tinggi.
Komitmen Kebangsaan yang Rendah
Kuba menganggarkan 32% untuk pendidikan dan 12% untuk kesehatan dari produk brutonya. Sedangkan kita belum bisa mencapai realisasi angka sekian tersebut. Memang ada perkembangan signifikan pada akhir-akhir ini, tapi komitmen itu belum sepenuhnya berjalan. Artinya kita belum bergerak memprioristaskan pembangunan sumber daya manusia. Jika Kuba mengekspor dokter, India mengekspor tenaga IT, maka kita hanya mampu mengekspor pembantu rumah tangga (TKW). Sebuah ironi dari bangsa yang besar ini.
Romantisme Bangsa Besar
Tahun 1973 pernah ada Pendidikan Tropical Medicine di Universitas Mahidol Bangkok atau SEAMEO di Bangkok di kepalai oleh orang Indonesia, yaitu Prof. Djuned Pusponegoro. Pada acara pembukaan pelaksanaan acara tersebut Prof. Djuned memberikan kata sambutan dalam tiga bahasa yang berbeda dan amat fasih.
Itu adalah gambaran bahwa kita juga pernah di segani. Namun kenyataan kita amat ironis, kita lebih memetingkan hura-hura dan pesta. Nah jika kita saat ini dengan gagah berani mengatakan bahwa negara ini gagal, seperti Jepang mengakui kekalahannya maka sudah saatnya kita juga bangkit.
Jika kita mulai sadar dari sekarang , mungkin dalam 10 sampai 20 tahun mendatang kita baru akan dapat menyusul negara-negara berkembang seperti Malaysia yang akhir-akhir ini selalu menang menghadapi kasus – kasus melawan kita. Bahkan dengan cerdik mereka mengklain terlebih dulu sesuatu yang jelas-jelas tumbuh dari budaya bangsa Indonesia.
Jadi Janganlah membuang waktu untuk Bangkit dan Action.




