Menjadi Salesman? Bukan hanya perorangan, atau staf pemasaran sebuah perusahaan yang harus berani menjadi salesman. Pemerintah juga harus berani menjadi salesman.
Komitmen Pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat untuk mempromosikan produk ekspor serta produk kreatif dalam menyikapi krisis global, maupun pengembangan ekonomi kreatif patut terus didorong dan didukung, dan hal ini membutuhkan banyak peran-peran salesman.
Menjadi salesman, bukan hanya patut dilakukan oleh pemerintah kita melalui atase dagang yang ada di negara-negara lain, juga patut dilakukan oleh kementerian terkait, seperti Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, Kementerian UKM dan Koperasi, Asosiasi-asosiasi serta penhimpunan bisnis dan juga para komunitas pewirausaha.
Kedutaan Thailand di Jakarta dalam lima tahun terakhir aktif mempromosikan berbagai produk hasil produk dan karya dari bangsa Thailand, seperti aneka makanan, fashion serta produk bisnis lainnya. Mereka bukan saja mempromosikan aneka produk, tetapi juga kekayaan budaya, serta jasa lainnya yang terintegrasi menjadi paket bisnis yang menarik.
Adalah Pompipol Chalermpalaupap, Presiden Asosiasi Wanita Thailand di Indonesia yang gigih mempromosikan berbagai karya dan produk Thailand untuk dikenal dan digunakan oleh masyarakat Indonesia.
Polly, demikian ia akrab dipanggil, bukan saja seorang istri dari seorang diplomat dari negara Gajah Putih tetapi ia seorang salesman yang siap mempromosikan produk-produk Thailand kepada masyarakat Indonesia.
Malaysia lebih heboh lagi. Melalui forum Malaysia Trade International (Matrade) yang diselenggarakan setiap tahun oleh Pemerintah Malaysia, dan mengundang ribuan pewirausaha dari seluruh dunia untuk datang ke Malaysia.
Mereka ingin menegaskan bahwa negara dan seluruh kekuatan pemerintah menjadi bagian terdepan dalam pengembangan bisnis dan kewirausahaan masyarakat Malaysia.
Mereka, bahkan mendirikan desk khusus, berada di bawah Embassy of Malaysia di Jakarta yang bukan saja mempromosikan produk-produk Malaysia tetapi mengajak pewirausaha Indonesia untuk melakukan investasi, aktivitas bisnis serta berbagai jejaring bisnis lainnya dengan pengusaha Malaysia. Pemerintah Malaysia benar-benar telah menjadi salesman.
Bagaimana dengan di Indonesia?
Merujuk data Badan Pusat Statistik, yang melansir hasil Sensus Ekonomi Tahun 2006, di sana diungkapkan bahwa masalah terbesar dari belum menggeliatnya bisnis produk-produk pewirausaha Indonesia sebagian besar masih terbatasnya akses pemasaran. Prosentase ini mencapai 24,2 persen dari seluruh kendala dan masalah yang dihadapi oleh pewirausaha Indonesia. Padahal ditilik dari keunikan dan kreatifitas produk, produk-produk asli Indonesia memiliki karakteristik dan keunikan yang tiada duanya di dunia.
Produk-produk seperti sepatu, tas, dan produk kerajinan lainnya, yang dikerjakan secara hand made, merupakan kekuatan tersendiri dari produk-produk Indonesia. Produk-produk tersebut bukan saja karena unik dibuat dengan kreatifitas tinggi, tetapi juga karena ketersediaan bahan baku yang melimpah di negeri sendiri. Sesuatu yang sangat muskil ada di negara lain.
Langkah untuk menjadikan produk-produk para pewirausaha Indonesia dapat berkibar-kibar di dunia internasional dan domestik, selain harus terus mengedukasi para pewirausaha dan pasarnya, melalui peningkatan saluran-saluran pemasaran, semisal memberikan sarana tempat berjualan yang memadai baik secara offline maupun online, menciptakan event-event pemasaran secara terintegrasi, yang melibatkan calon pembeli baik dari dalam maupun luar negeri, semuanya membutuhkan peran pemerintah untuk mau menjadi salesman bagi produk-produk masyarakat dan rakyatnya.




