:: Wirausaha & Keuangan ::

Empat Sekawan Buat Bisnis Remeh Tapi Omzet Miliaran

E-mail Cetak PDF
Berbisnis ternyata tidak harus yang rumit-rumit, apalagi yang memerlukan modal banyak. Empat sekawan ini bolehlah dicontoh jalan hidupnya. Ia mendirikan Tela-Tela, bisnis makanan dari singkong tetapi gerainya ada 1500 buah di seluruh pelosok kota. Omzetnya? wuih menggiurkan.

Singkong?. Semua orang sudah kenal. Mungkin juga sebagian besar pernah mencicipinya. Tetapi apakah anda pernah memikirkan bahwa dengan sedikit kreatifitas saja, bahan singkong bisa menjadi bisnis yang benar-benar besar. Seperti yang dijalani empat sekawan ini, Fath Aulia Muhammad, Eko Yulianto, Asyhari Tamimi dan Febri Triyanto. Empat sekawan ini mempelopori usaha dengan  brand Tela-Tela. Di tangan anak Yogyakarta ini singkong yang notabene di kenal  sebagai makanan kelas bawah saat ini sudah tidak diremehkan lagi. Sudah naik kelas. Singkong dikemas sedemikian rupa menyerupai potongan french fries,  dari luar ditaburi dengan bumbu aneka rasa menjadikan singkong menjadi makanan ringan yang digemari anak muda. Bisnisnya, juga menggiurkan.

Berkembang Mengasikkan
Berdiri sejak 24 September 2005 lalu, empat sekawan ini pertama kali mengelola usaha TelaTela hanya satu outlet saja di daerah Tambak Bayan, Yogyakarta.  Dari satu outlet, bisnisnya berkembang dengan cepat menjadi 3 outlet hanya dalam waktu sangat singkat. Setiap outlet yang didirikan begitu ramai dikunjungi pembeli. Keuntungannyapun mengasikkan. Masyarakat pelanggan yang melihat fenomena ini banyak yang tertarik  ingin ikut berbisnis. “Banyak yang ingin mengembangkan penjualan Tela Tela di lokasi yang mereka inginkan,” ujar  Fath Aulia Muhammad kepada WK. Akhirnya, perjuangan bisnis yang dirintis empat sekawan ini menghasilkan buahnya. Kini dengan dukungan 38 karyawan di kantor pusat yang ada di Yogyakarta, empat sekawan ini mampu mengembangkan Tela-Tela sebanyak 1500 cabang hanya dalam waktu tiga tahun saja yang tersebar dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Sorong, Papua. Menurut Fath, bisnis makanan ini dipilih karena bahan bakunya yang sangat banyak dan di budidayakan oleh petani Indonesia,  serta harganya relatif dapat di jangkau oleh masyarakat luas. “Harga jual per pack tela-tela dijual mulai dari Rp2500 hingga Rp5000, tergantung dari lokasi usahanya. Tentu terjangkau oleh kantong masyarakat luas,” tambahnya.

Lebih Enak Makan yang Asli
Seperti biasa bisnis makanan gampang di duplikasi oleh masyarakat. “Tepatnya gampang ditiru”, ujar Febri Triyanto yang membidangi pemasaran Tela-Tela kepada WK. Di Yogyakarta, lanjut Febri, sudah ada beberapa merk lokal yang menduplikasi bisnis ini dengan memberikan nama yang mirip sama dengan Tela-Tela. Tidak usah disebutkan, yang jelas pengekor ini mendompleng nama tenar Tela-Tela. Meskipun demikian, masyarakat sudah jeli merasakan kekhasan produk masing masing dan banyak yang berkomentar  bahwa Tela-Tela memang berbeda. Lebih enak.
Beberapa master franchisee Tela Tela di beberapa daerah juga mengatakan demikian. “Kemunculan produk yang sama tidak terlalu dirisaukan. Kenyataannya hanya produk Tela-Tela yang bisa bertahan,” ujar Budi, salah satu master franchisee Tela-Tela di kawasan luar Pulau Jawa.

Micro Franchising Ala Tela-Tela
Dalam pengembangan bisnisnya, Tela-Tela memiliki konsep micro franchising dengan mengadopsi sistem bisnis franchise. Dengan modal yang tidak terlalu besar dan dapat menekan risiko menjadikan pemilik franchise mendapatkan balik modal (ROI) yang relatif cepat. Untuk menjadi master franchise franchises fee dipatok dengan harga Rp14juta. Kelebihan menjadi  master franchise diberikan kepercayaan dan hak mengelola satu wilayah per Kabupaten atau Kotamadya. Investasi tersebut belum termasuk biasa operasional awal yang meliputi peralatan produksi, produksi awal dan  gaji karyawan yang semuanya disediakan sendiri oleh master franchisee. Beberapa master franchise yang telah menjalankan bisnis ini memperoleh penghasilan yang luar biasa. Master franchise juga disarankan mengembangkan outlet franchise sebanyak-banyaknya, terutama di daerah-daerah yang potensial untuk dikembangkan outlet Tela-Tela. Misalnya di mall, sekolah-sekolah, rumah sakit, atau tempat-tempat perbelanjaan

Bila ingin memiliki satu outlet franchisee, calon mitra cukup menyediakan investasi sebesar Rp5 – Rp6juta saja.Hasil penjualan satu bulan dari omzet Manajemen Pusat Tela-Tela memiliki hak sebesar 6% sebagai royalty fee. Selanjutnya master franchisee akan didukung dengan berbagai bantuan, mulai dari bantuan  startup seperti pelatihan melayani konsumen, menyajikan produk tela tela dengan baik dan benar, dukungan bahan baku awal, promosi berupa penyebaran materi promosi berupa brosur, flyer, iklan dan stiker sampai dengan support dalam hal manajemen outlet dan promosi outlet. “Franchisee juga dapat berkonsultasi setiap saat dalam segala hal yang berkaitan dengan perkembangan bisnisnya tanpa dipungut biaya sepeserpun,” jelas Febri Triyanto. Anda berminat menjadi mitra Tela Tela, silakan kontak  ditelepon 0274- 485356.
Terakhir Diupdate ( Selasa, 10 Maret 2009 10:31 )