Bisnis yang bergerak dibidang pendidikan tidak akan lekang oleh waktu dan tak akan mati oleh jaman. Sepanjang kehidupan manusia, pendidikan masih tetap menjadi kebutuhan. Apapun bentuknya. Tak salah, bila bisnis lembaga pendidikan terus tumbuh dan berkembang. Saat ini, di mana masyarakat sudah semakin sadar bahwa pendidikan menjadi hal yang sangat penting, tentu pilihan mencari sekolah yang tepat bagi putra-putrinya menjadi sebuah kebutuhan. “Masyarakat semakin cerdas memilih mana yang berkualitas atau tidak bagi anaknya. Karena itu tersedianya sekolah dan lembaga pendidikan yang bermutu dan memberi nilai tambah merupakan hal yang sangat penting. Karena itu jika ada lembaga pendidikan yang berkualitas dan memiliki nilai tambah banyak dicari orangtua,” ujar Setiana Widjaja, Direktur Utama Saint Anna Education Centre (SAEC). Penerima ISMBEA Award 2008 ini mengungkapkan bahwa SAEC yang didirikannya adalah contoh lembaga pendidikan yang paham dengan kebutuhan itu. Lembaga pendidikan yang didirikan sejak tahun 1996 ini menawarkan pendidikan yang berkualitas dan mampu memberikan nilai tambah melalui program-program yang ditawarkan, antara lain program bahasa mandarin, bahasa inggris, computer, serta bimbingan belajar.
Konsep One Stop Learning
Sementara itu, FX Budi Pranata, Komisaris SAEC, mengungkapkan SAEC sejak awal didirikan sengaja membidik segmen balita sampai remaja, kelas menengah-bawah, yang berada di kota-kota besar dan menengah seperti Jakarta, Tanggerang, Depok, Jember dan lainnya. “Meski lembaga pendidikan saat ini begitu menjamur, namun SAEC tetap eksis karena memiliki banyak keunggulan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lainnya. Keunggulan tersebut adalah adanya konsep one stop learning, dimana anak-anak dapat belajar secara menyeluruh dan terintegrasi pada tempat yang sama, dan waktu yang beriringan, bisa juga sambil belajar komputer di laboratorium bahasa, belajar bahasa mandarin hingga bisa ikut bimbingan belajar,” ujar Budi. Dalam pengajaranpun, SAEC menggunakan audio visual serta buku-buku berdasarkan kurikulum dari Singapura dan juga diinspirasi dari Montessori, sehingga tidak hanya memanfaatkan penghapalan tetapi juga fungsi-fungsi bahwa belajar itu harus enjoy dan fun.
Mencari Mitra Untuk Berkembang
Konsep one stop learning yang dikembangkan SAEC setidaknya membuktikan bahwa lembaga pendidikan ini kini banyak dibutuhkan masyarakat di berbagai daerah. “Perkembangannya terus membanggakan. Permintaan pembukaan cabang dari berbagai daerah juga semakin banyak. Karena itu, waktu 10 tahun sudah membuktikan bahwa SAEC memiliki strategi yang tepat dalam mengembangkan system pendidikan anak,” ujar Setiana Widjaja. Bahkan, lanjut Setiana, SAEC memperoleh pengakuan dari Depdiknas, sebagai lembaga pendidikan berprestasi pada tahun 2006 di tingkat nasional mewakili Jakarta. “Hal ini bukti bahwa Departemen Pendidikan Nasional melihat kami cukup potensial,” lanjut Setiana. Anda tertarik berkembang bersama SAEC, silakan kontak ditelepon 0818136012,08179971437.
Lembaga Pendidikan Investasi Hanya Rp 125 juta
Dalam mengembangkan SAEC ke berbagai daerah, Setiana mengembangkannya melalui system bisnis franchise. Ada empat alasan mengapa SAEC sangat prospektif dikembangkan di daerah-daerah. Pertama, SAEC membidik segmen menengah bawah yang notabene memiliki ceruk pasar terbesar. Kedua,sebagai lembaga pndidikan, SAEC menawarkan cakupan multi program sehingga memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses. Ketiga, adanya dukungan manajemen yang baik kepada franchisee, serta terbukti bisnis ini eksis berdasarkan pengalaman yang telah dilaluinya selama lebih dari 10 tahun. Bagaimana persyaratan menjadi franchiseenya? Cukup mudah. Hanya bermodalkan Rp 125 juta, termasuk franchise fee sebesesar Rp75 juta untuk 5 tahun) seorang sudah bisa memiliki bisnis lembaga pendidikan yang bermutu dan terbukti eksistensinya. Rinciannya, Rp50 juta untuk persiapan infrastruktur pendidikan seperti AC, kursi, komputer, alat-alat belajar dan lain sebagainya, dengan royalty fee sebesar 10% dari penghasilan kotor. Tidak hanya itu, calon franchisee pun juga mendapat berbagai support dari franchisor hingga franchisee mampu berjalan mandiri. Mulai dari rekrutmen dan pelatihan guru dan staf admnistrasi, penyediaan buku, program dan kurikulum hingga ke monitoring. Lantaran segmen yang dibidik adalah menengah-bawah, maka harga per paket untuk mengikuti pendidikan di SAEC terbilang tidak mahal. Berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per bulan (untuk kursus 2x dalam seminggu). “Yang kami berikan adalah high value education untuk medium to low economic income,” lanjut Setiana.




