Banyak pebisnis makanan yang mewaralabakan bisnisnya. Tetapi ada juga yang tetap bertahan dengan konsep konvensional yang membuka cabang milik sendiri dan ogah mengembangkan bisnis dengan konsep waralaba. Ditengah banyaknya pebisnis makanan yang getol menjual konsep bisnis waralaba, Arwan Atmadja (50) justru ogah melakukannya. Ia menyadari bahwa bisnisnya masih terus berproses, dan konsep bisnis yang dikembangkan terus mengalami penyempurnaan. Berbeda dengan pebisnis lain yang ingin cepat-cepat memfranchisekan bisnisnya dengan harapan memperoleh dana segar, Arwan justru tidak ingin melihat system bisnis franchise mengorbankan orang yang tidak memahami bisnis sesungguhnya.
Masih Panjang
Sebuah bisnis, menurut Arwan, dikembangkan secara franchise jika benar-benar telah teruji, memiliki brand image yang baik serta memiliki reputasi yang membanggakan. “Tidak lantas setahun atau dua tahun membuat bisnis kemudian rame-rame memfranchisekan. Seberapa jauh reputasi bisnis sudah terbentuk,” ujar pebisnis bakmi yang memulai dari usaha kaki lima di kawasan Otista, Jakarta Timur ini.
Bakmi Golek yang dibangun Arwan 15 tahun lalu, kini telah memiliki 4 cabang. Bagi sebagian pengamat, Bakmi Golek memenuhi syarat untuk dikembangkan secara franchise. “Banyak orang yang datang kepada saya menawarkan menjadi franchisee Bakmi Golek. Mereka begitu yakin dan meyakinkan saya mengenai cara-cara membangun bisnis dan mendapatkan banyak uang. Saya katakan kepada mereka, apakah bisnis hanya untuk uang. Bagaimana jika orang lain tidak memahami bisnis ini, dan kemudian gagal? Apakah tidak kasihan,” ujar Arwan.
Pemikiran inilah yang mendasari Arwan ogah mengembangkan bisnis secara franchise saat ini. Alasan lainnya tentu saja berkaitan dengan hak paten, hak cipta dan permasalahan hukum lainnya yang belum kondusif di Indonesia. Meskipun baru saja dikeluarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 42 Tahun 2007 Tentang Waralaba dirilis oleh Presiden Republik Indonesia.
Banyaknya cerita tidak sedap hubungan antara pemilik waralaba dengan terwaralaba menjadikan Arwan berfikir dua kali untuk menjadikan bisnis Bakmi Golek dikembangkan dengan cara ini. Ia merasa begitu banyak orang yang belum memahami bisnis, reputasi belum terbentuk dengan baik, sumberdaya supportnya belum dikelola, brandnya belum dikenal sudah berani menjual system bisnis kepada orang lain. Jika motifnya hanya sekedar mencari uang sebanyak-banyaknya, sementara ia tidak memperhatikan system bisnis yang telah franchisekan maka suatu saat reputasinya sebagai pebisnis akan jatuh. “sebagai pebisnis, reputasi pebisnis itulah sebenarnya yang paling mahal,” lanjut Arwan.
Terinspirasi Mac Donald
Sebagai pebisnis makanan, khususnya bakmi, Arwan terinspirasi dengan cara kerja Mac Donald dalam mengelola usahanya. Pengelolaan bisnis makanan membutuhkan ketelitian dan manajemen lebih detail, misalnya memilih koki, penyajian makanan, hingga pengeloaan kebersihan. Dan Mac Donald dapat dijadikan contoh bagaimana kita berbisnis makanan dengan baik. Cara kerja Mac Donald tersebut, seperti yang diamatinya, menyangkut cara pemilihan tempat usaha, termasuk traffic pengunjung, pengeloaannya, baik pemilihan gedung, ruangan, hingga mengelola produk makanan, sumberdaya manusia serta kegiatan pemasaran dan promosi. Semuanya tersistem dengan baik.
Di manapun anda mengunjungi gerai Mac Donald, semuanya akan sama, mulai dari corporate culture yang dibangun, corporate colour yang ada, hingga rasa dan penyajiannya. “Mereka terlihat begitu sangat tersistem dengan baik, terstandar serta dikelola secara professional. Kami mengarah ke sana,” ujar ayah dari Gema Yulius T (21) yang kini sedang menimba ilmu bekerja disebuah restoran internasional di Patayya, Thailand. Kini dengan 6 cabang yang ada, Bakmi Golek yang bermula dari sebuah gerai kecil di Jl. Otto Iskandardinata, Bakmi Golek kini telah berkembang menjadi 6 cabang. Selain mie kuah, mi goreng, dan nasi gorengnya yang populer, ada juga beberapa masakan Tionghoa halal yang disajikan di gerai ini. Berminat berkunjung ke Bakmi Golek, silakan telepon ke 021-8004366 n




