Bagian – 1
Sekali-kali datanglah ke kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Anda akan menemukan begitu banyak gerai produk barang bekas, mulai dari furniture, perlengkapan kantor, kebutuhan rumah tangga, hingga deposit box. Salah satu raja barang bekas yang sangat dikenal di daerah tersebut adalah Haji Iso Rustandi (67).
Lelaki asal Cibatu, Garut, Jawa Barat ini, kesohor sebagai pebisnis barang bekas tidak hanya di kawasan Manggarai, Jakarta, tetapi dikenal hingga ke Lampung, Palembang, Surabaya hingga Bandung.
Ia dikenal sebagai pemasok barang bekas, mulai dari aneka kebutuhan furniture untuk pembukaan kantor baru, rumah makan, sekolah, tempat kursus hingga rumah tempat tinggal.
Soal kualitas, jangan mengira barang bekas yang dijual terlihat bekasnya. Justru barang bekal yang dijual H Iso terlihat baru. Hargapun sangat bersaing, dan miring jika dibandingkan dengan membeli produk baru, terutama produk furniture dengan merek terkenal.
Haji Iso memulai bisnis ini awalnya karena keterpaksaan. Bisnis yang semula digeluti dari awal, membuka toko elektronik di kawasan dekat pasar Manggarai, Jakarta Selatan yang dijalani bertahun-tahun terpaksa harus ditutup karena terimbas krisis ekonomi sepuluh tahun lalu. Meski tetap dipertahankan, ia tetap kalah bersaing dengan toko elektronik lainnya. Perang harga sesama pemilik toko elektronik tidak dapat dihindarkan, sementara, bisnis jasa dan perdagangan yang coba-coba dilakukan juga hanya seumur tanaman jagung. Bisnis lain, seperti makelar tanah, pemborong bahan bangunan sepertinya tidak membawa hoki yang berarti. Usahanya ludes, tak berarti.
Ia kemudian mencoba berbisnis barang bekas, dari hal yang tidak pernah diduga-duga senbelumnya. Seorang teman menjual filling cabinet bekas beberapa buah kepadanya. Sebelum menjual kembali H Iso mereparasi dan mengecatnya hingga terlihat seperti baru. Setelah ditawarkan kepada calon pembeli ternyata harganya sangat bagus.
“Saya tidak mengira harganya bisa meningkat dua kali lipat dari beli sebelumnya,” ujar H Iso mengisahkan awal usaha barang bekas ini.
Suatu kali ia pernah membeli satu set meja kantor rongsokan yang hampir tidak berbentuk seharga Rp200 ribu. Setelah dipermak, ternyata ada yang membeli dengan harga Rp1,2 juta. Mengapa ini bisa terjadi, menurutnya karena kini semakin banyak orang yang lebih suka mencari barang bekas, furnitur bekas, bahkan laci bekas disbanding yang baru, sebab kualitas kayu dan besi yang digunakan masih lebih bagus dari produk barang-barang sekarang. Selain itu, proses pembuatan barang sekarang terkesan asal jadi dan mengabaikan unsur kualitas dan kekuatannya.
Kunci Bisnisnya Ada di Keahlian Bongkar Pasang
Hampir pasti, sejumlah lemari bekas, furniture bekas, bahkan peralatan kantor bekas, banyak orang yang tak sudi untuk menyimpannya. Saat pindah rumah atau pindah kantor, setumpuk peralatan dan barang bekas siap disampahkan. Tetapi di mata Pak Haji yang satu ini, barang bekas tersebut merupakan harta karun yang sesungguhnya.
Maksudnya, orang tahu pekerjaan pemburu harta karun itu seperti menyusuri lautan dalam, mencari sekeping pecahan guci, uang perak, peralatan dapur kuno dan berbagai benda berharga lainnya. Mereka lalu membersihkan, menyusun kembali dan menjual di sebuah lelang dengan harga sangat mahal.
Nah, mirip dengan cara kerja pemburu harta karun itulah kerja H. Iso. Tak ubahnya mencari furnitur bekas atau meja-kursi rusak untuk dibeli, lantas dipoles dan diperbaiki. Mereka membelinya dengan harga sepantasnya menurut ukuran barang rusak dan bekas. Selanjutnya, tentu saja sesudah melalui proses renovasi- barang itupun dijual dengan harga mahal.
Sejatinya, kunci sukses jual beli barang bekas yang ia lakukan memang terletak pada tim ahli bongkar pasangnya. Dan ia mempunyai 43 karyawan yang mengerti dan memahami bongkar pasang barang-barang bekas. Mereka memperbaiki, mengelas, mengecat, bahkan “menyulap” barang bekas tersebut menjadi baru kembali.
Seni Menaksir Lelang Barang Bekas
Salah satu kunci sukses pebisnis barang bekas adalah keberaniannya mengikuti tender lelang pembelian barang bekas yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan yang melego barang-barang bekasnya untuk dijual secara borongan.
Suatu ketika ada di kejadian sebuah lelang dari gudang yang berisi macam-macam barang, ada furnitur, ada kursi, lukisan, hingga komputer. Anda jangan membayangkan barang-barang bekas di gudang itu letaknya rapi-jali sehingga mudah dihitung. Ketika lelang dimulai, tak satupun peserta lelang berani mengajukan harga mereka. Ada bayang-bayang kerugian dalam kalkulasi. “Ketika saya survei sendiri, saya menghitung berdasarkan feeling saja. Saat itu juga saya tentukan harganya sekian” ujarnya ringan.
Berdasarkan sejumlah pengalaman mengikuti lelang barang bekas, belum sekalipun ia terkecoh dengan barang yang ada. Mengapa demikian? Meski usianya sudah tua, namun H Iso memiliki daya ingat yang tinggi. Ia mampu menghitung dan memperkirakan yang orang lain belum tentu bisa melakukannya.
Pernah, ungkap pria yang akrab disapa Pak Haji ini, ada acara lelang di sebuah gudang besar. Saat pelelangan digelar, semua sama-sama memelototi berbagai barang yang akan dilelang. Keesokan harinya ketika ia kembali lagi untuk memeriksa barang, rupanya ada orang yang menggeser dan memindahkan barang. Spontan saya bertanya, “dimana meja yang ada di sudut ini kemarin” ? ujarnya.
Rupanya mereka heran, “ada kursi yang bergeser saja tahu” ujarnya seraya tersenyum.*
Kontak H Iso Rustandi - 0817707149 n




