:: Wirausaha & Keuangan ::

H. Iso Rustandi - Raja Barang Bekas Jakarta

E-mail Cetak PDF

Bagian - 2

Pada edisi lalu, telah diceritakan di majalah ini bahwa bisnis H. Iso Rustandi yang menggeluti bisnis barang bekas, berawal dari keinginannya untuk memberikan nilai tambah terhadap produk-produk barang bekas, seperti aneka furniture, filling cabinet, dan aneka peralatan rumah tangga lainnya. Bagaimana perjalanan H Iso membangun bisnisnya?

Menolong Orang

Rupanya bisnis ini bergulir sangat sederhana. Berawal dari keinginannya untuk menolong orang, dengan memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Ia trenyuh melihat begitu banyak pengangguran. Ia pun mencoba memberikan kontribusi sebisanya, dengan usaha yang didirikannya.

Sebelum menekuni bisnis ini, ayah dari 18 orang anak ini  sepanjang hidupnya dihabiskan untuk kegiatan berbisnis. Namun bisnisnya berujung di tahun 1998. Bisnis berjualan produk barang-barang elektronik yang dijalani terpuruk akibat krisis ekonomi tahun 1998 lalu. Krisis itu bukan hanya menghancurkan usahanya tetapi nasib ekonomi keluarganya juga ikut amburadul. Dari semula ada menjadi tidak ada lagi. Namun, semua ini tidak menjadikan H Iso putus asa, dan justru bangkit untuk memulai hidup baru.

Untuk mengangkat kembali ekonomi keluarga, berbagai pekerjaan dicobanya. Menjadi makelar tanah, pemborong bangunan hingga pekerjaan kasar lainnya.  Meskipun saat itu usianya sudah tidak muda lagi untuk memulai usaha namun tekadnya untuk bangkit dan berarti begitu kuatnya, sehingga dorongan dan motivasi itulah yang membuat ia tetap bersemangat berbisnis.

Di tengah-tengah karyawannya yang sebagian besar hanya lulus SD atau SMP, ia tidak hanya seorang pebisnis, tetapi juga seorang ayah yang membimbing mereka semua. Hubungannya dengan karyawan bukan sekedar antara majikan dan buruh, tetapi lebih mirip antara ayah dan anak. 

“Kalau yang pinter-pinter sih gampang mencari pekerjaan, tetapi yang lulus SD seperti mereka, jika kita tidak membimbingnya apa yang dapat mereka lakukan. Kita harus membimbingnya sampai ia mandiri,” ujar H Iso yang tahun lalu dicalonkan oleh tokoh-tokoh masyarakat Garut agar maju sebagai calon Bupati Garut beberapa waktu lalu. Namun langkah ini tak dilanjutkan. Ia tak tertarik dengan jabatan-jabatan itu lagi.

Bisnis Barang Bekas - Memahami Nilai Lebih Sebuah Barang Bekas

Barang bekas, lanjut H Iso, ternyata memiliki pangsa pasar tersendiri. Banyak orang, terutama para pelanggannya yang secara khusus diinformasikan jika ada barang bekas baru datang.

“Ada orang yang mengetahui bahwa barang bekas, semakin lama, semakin mahal harganya” ujar kakek dari 23 ini yang tetap enerjik dan bersemangat berbisnis ini.

Karena itulah, Haji Iso Rusandi menerapkan standar kualitas mutu terhadap setiap barang bekas yang diperoleh dan dijualnya kembali. Artinya, semua dipoles, diperbaiki, bahkan ada yang dicat kembali. Kalau bentuknya seperti filling cabinet yang terbuat dari lempengan baja dan besi, dibersihkan, dicat, dan dipastikan orang bisa pangling, karena bentuknya seperti baru lagi.

Ia menambahkan, akhir- akhir ini sudah biasa bila sebuah kantor yang membuka cabang, semua isi kantor berupa furniture, meja kursi, filling cabinet dipasok dari tokonya. Bahkan ada sebuah perusahan, dari kantor pusat hingga kantor cabang di seluruh kawasan Lampung hingga Surabaya semua kebutuhan furniture dan filling cabinet mengambil dari tokonya.

Pertimbangan si pembeli, katanya, karena barang-barangnya seperti tak  ada bedanya dengan  barang  baru. Juga lebih kuat, tetapi harga jauh lebih murah. Ia mencontohkan harga kursi standar ruang meeting, harga baru bisa mencapai Rp400 hingga Rp500 ribu per buah. Tetapi di tokonya ia cukup menjual seharga Rp 200 ribu. Belum lagi harga meja kantor yang di pasaran harganya berkisar Rp. 500 ribu, ia melepas seharga Rp 250 ribu saja per  buah.

Berkah Kepuasan Pelanggan

Satu hal yang dijaga oleh Haji Iso Rusandi dalam menjalani bisnis barang bekas ini adalah menghargai pelanggan dengan sepenuh hati.

“Saya selalu ingin pastikan bahwa pelanggan tidak kecewa datang ke tempat saya. Karena hampir sebagian besar pembeli  yang datang, mengaku diberi informasi oleh  pelanggan saya sebelumnya” tukas Haji Iso.

Ia selalu berupaya menerapkan prinsip melayani semaksimal mungkin. Ia memberi contoh, kalau uang calon pembeli  tersedia Rp 200 ribu, ia pun mencarikan barang seharga itu. Kalaupun uang sang pembeli masih ada kurang-kurang sedikit, tidak menjadi  masalah baginya. Mengapa begitu? Karena prinsipnya ia tak ingin pembeli pulang dengan  tanpa membawa  barang atau produk yang diinginkannya. 

Dalam waktu yang relatif singkat atau kurang dari delapan tahun sejak menekuni bisnis barang-barang bekas, omzetnya memang lumayan besar. Ia menunjukkan catatan penjualan Toko Sinar Baru Mulia miliknya di Jl. Saharjo No. 62 A, Menteng Atas, Jakarta Selatan,  yang mencapai angka rata-rata Rp 500an juta per bulan per toko. Sementara ia memiliki beberapa toko barang bekas di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, yang dikelola oleh anak-anaknya.

Ia sungguh mensyukuri dan kini telah memetik hasil jerih payahnya dari menggeluti jual-beli barang bekas. Rasa syukur itu, antara lain ia wujudkan dengan menunaikan ibadah haji di tahun 2002 lalu bersama seluruh keluarga besarnya. Ia juga Termasuk membeli beberapa unit rumah di Depok serta tanah untuk gudang seluas 300 meter persegi. Ia juga membeli ruko untuk memperluas usahanya dan armada truk sebanyak enam buah. Beberapa mobil mewah juga dibelinya.

Ia ingin kawasan Manggarai, Jakarta Selatan akan menjadi kawasan bisnis barang bekas yang kesohor dimana-mana, dan tentu saja nama H Iso Rustandi, akan dikenang sebagai pioneer bisnis barang bekas, dan Raja Barang Bekas, Jakarta yang tiada duanya. n

Terakhir Diupdate ( Senin, 07 September 2009 04:01 )  

Seminar 1

jasa website toko online

Seminar 2