
H. Iso Rustandi - Raja Barang Bekas Jakarta
Bagian 3 - Habis
Jatuh bangun sebagai pebisnis barang-barang elektronik di Pasar Manggarai, Jakarta Selatan karena terimbas krisis tahun 1999 lalu, menjadi pelajaran yang terus dikenangnya. Bukan dikenang kegagalannya, tetapi pelajaran yang diberikan. Betapa kegagalan itu dapat hinggap ke siapa saja, demikian juga dengan kesuksesan dan kemudahan untuk mendapatkan rejeki.
Saat itu, ketika kebangkrutan melanda dirinya, usianya tidak muda lagi. Bahkan banyak orang yang tidak menyangka di usianya yang semakin tua, justru kesuksesan berpihak kepadanya. Bisnis barang bekas yang dikelolanya semakin lama semakin berkembang, semakin besar, bahkan ia membuka cabang ke berbagai lokasi di Jakarta.
Ketika majalah WK menelpon H. Iso Rustandi untuk mengkonfirmasi bahan tulisan, ia sedang di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur. Ia sedang berencana membuka outlet penjualan barang bekas di kawasan tersebut.
“Saya di Kalimalang, sedang cari-cari lokasi untuk membuka outlet baru,” ujarnya diujung telepon.
Sempat Tergoda
Kesuksesannya berbisnis, dengan omzet penjualan barang bekas tak kurang dari Rp0,5 miliar per bulan, membuat ia banyak dikenal di seluruh seantero Jakarta. Terutama di kalangan para pebisnis bekas, perusahaan yang menjual dalam partai besar maupun perusahaan yang akan membuka kantor baru.
“Jangan salah, kualitas furniture, filling cabinet, maupun peralatan kantor yang dijual di sini, meskipun barang bekas kualitasnya tak kalah dari yang baru. Semuanya sudah dipoles sehingga terlihat lebih baru,” cetusnya.
Dengan kualitas seperti itu, kini gerai Toko Sinar Baru Mulia, miliknya, yang berada di Jl. Saharjo No. 62 A, Menteng Atas, Jakarta Selatan, tidak hanya didatangi kalangan masyarakat umum menengah bawah, tetapi kalangan menengah ataspun banyak yang hunting ke sini, khususnya untuk mencari furniture-furniture antik yang berbahan baku kayu jati asli.
Namun, perjalanan bisnis H Iso sempat tergoda oleh kesibukan lain. Tahun 2007 lalu, ketika Pilkada sedang hangat-hangatnya, ada sebagian masyarakat Garut yang berharap ia dapat mencalonkan diri menjadi Bupati Garut. Saat itu ia sempat tergoda untuk ikut dalam pemanasan kegiatan pencalonan Bupati Garut.
Meski sudah banyak biaya yang dikeluarkan untuk ‘pemanasan’ pencalonan, namun H Iso tersadar untuk fokus kembali mengelola usahanya.
“Saya sempat waktu habis untuk mengurusi Pilkada. Pulang pergi Jakarta – Garut membuat kesehatannya terganggu. Belum lagi banyak kegiatan bisnis yang terabaikan,” ujarnya kepada WK.
Ia sadar bahwa ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengabdi kepada kampung halaman, diantaranya dengan merekrut anak-anak putus sekolah di Garut, mereka diajari bekerja, dan diajarkan menjadi pribadi-pribadi yang mandiri.
Karena itu, ia kini terus mengembangkan bisnis yang dirintisnya. Mempersiapkan anak-anaknya untuk melanjutkan bisnis yang menurutnya memiliki prospek sangat cerah.




