Bagian 1
Sore, ketika majalah WK berkunjung ke kantor PT Madison Adian, hujan sedang mengguyur dengan derasnya. Di Kawasan Perkantoran Ruko Sentra Menteng, Bintaro Jaya Sektor VII, Tangerang, Banten itulah Hj Nursafiah Pasaribu (53) menghabiskan sebagian waktunya untuk memimpin perusahaan yang bergerak dalam bisnis penjualan cash dan kredit barang-barang kebutuhan rumah tangga dan kantor, termasuk juga sepeda motor, furniture, elektronik, dan kebutuhan lainnya.
Hj Nursafiah adalah direktur utama di perusahaan tersebut. Sedangkan Ucok Adian, anaknya yang semata wayang menjabat sebagai direktur di perusahaan yang didirikan oleh Almarhum Ramadhan Simbolon, suaminya.
Berbicara tentang PT Madison Adian adalah merunut sejarah panjang perjuangan Hj Nursafiah mengembangkan cita-cita usaha yang telah dibangun suaminya.
“Suami saya bertahun-tahun membangun bisnis ini. Kantor masih mengontrak setiap bulan, hutang bank dan kewajiban pinjaman lainnya. Tiba-tiba kemudian meninggalkan saya. Saya tidak dapat berbuat apa-apa karena saya disibukkan dengan pekerjaan sehari-hari sebagai pegawai negeri di wilayah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan,” ujar wanita kelahiran Barus, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara ini memulai cerita.
Usaha berjualan cash dan kredit produk-produk elektronik, sepeda motor dan barang kebutuhan rumah tangga saat itu ramai-ramainya, sehingga untuk menambah modal, suaminya meminjam kredit modal di bank dengan jaminan rumah tempat tinggal yang ada di Bintaro Utama III, Bintaro Jaya.
Saat suaminya sudah tiada, ia tersentak, ketika pihak bank akan mengambil alih satu-satunya rumah yang ditempati karena adanya tunggakan kredit di perbankan. Saat itulah ia mulai berfikir bagaimana harus menyelamatkan semuanya : rumahnya, usaha yang diwarisi dari suaminya, serta kesibukannya sebagai pegawai negeri.
Karena sejak awal Nursafiah tidak terlibat dalam usaha suaminya, ia bingung untuk menggantikan posisi suaminya di perusahaan yang ditinggalkan, dan bagaimana memimpin 20 karyawan yang menjadi tanggungjawabnya. Beruntung para karyawan bersemangat dan memiliki loyalitas untuk meneruskan usaha ini.
“Saat itu banyak karyawan perusahaan ini yang bertanya, Bu apakah usaha ini akan ditutup. Lantas saya kerja dimana. Saya katakan, kita akan lanjutkan terus,” ujarnya.
Nursafiah kemudian mencoba belajar , bagaimana menggunakan komputer, membuka file-file milik suaminya, dan meminpin rapat perusahaan.
Mula-mula ia menanyakan satu demi satu permasalahan perusahaan kepada setiap anak buahnya, dari hal yang tidak diketahuinya lambat laun ia menjadi paham bisnis yang digelutinya.
Melalui karyawannya, Nursafiah belajar menentukan target, mengawasi penjualan, hingga mendiskusikan kendala-kendala pemasaran di lapangan, termasuk mengawasi secara ketat kredit macet terhadap produk yang dijual.
“Dari karyawan juga saya mengetahui bagaimana mengendalikan perusahaan. Waktu itu saya katakan, jika kita ingin maju kita harus mengubah perilaku berbisnis, menentuklan strategi. Jika tidak kita akan kalah bersaing dengan lainnya,” ujarnya.
Mulai saat itulah, Nursafiah memberikan target penjualan kepada karyawannya, semula 1 miliar setiap bulan. Para pelanggannya yang mengajukan kredit barang juga diteliti, seperti memiliki KTP, kartu keluarga, serta mempunyai jaminan. Para petugas survey juga diminta teliti melakukannya.
Alhasil, dalam waktu kurang dari 5 tahun, perusahaan yang semula minus, selalu kekurangan uang, kantor masih kontrak akhirnya dapat memiliki kantor sendiri. Tidak tanggung-tanggung, dari 5 kantor cabang yang dimiliki, 4 kantor sudah milik sendiri. Demikian juga karyawan, dari semula 20 orang bertambah menjadi 60 orang. Ia pun mengajukan pensiun dini dari statusnya sebagai pegawai negeri.
Rumahnya yang semula menjadi jaminan bank, sudah terbebas dari kredit macet, dan hutangnya lunas dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Bisnisnya mengalir dari satu bisnis ke bisnis lainnya. Dan semenjak ditinggal suaminya, Nursafiah telah menjadikan perusahaan minus menjadi suplus hingga saat ini memiliki asset senilai Rp15 miliar memang bukan perkara mudah. Ada tips jitu yang akan dituturkan Nursafiah di edisi WK mendatang.*
Hj Nursafiah Pasaribu - Tlp. 021-74863952-53 Fax 021-74863954




