:: Wirausaha & Keuangan ::

A. Pramono - Raja Ayam Bakar Mas Mono

E-mail Cetak PDF

Sepuluh Tahun, Modal Rp500 Ribu Menjadi Rp5 Miliar

Bagian 2

Perjalanan bisnis  Agus Pramono (bukan Ahmad Pramono seperti yang ditulis WK edisi 71 lalu) dengan membesarkan  gerai Ayam Bakar Mas Mono  yang tumbuh secara vertikal  maupun horizontal, patut ditiru. Setidaknya, jejaknya dapat dilihat, kemudian diikuti. Apa rahasia paling mendasar yang membuat bisnisnya tumbuh dan berkembang seperti saat ini. 

Bagi kalangan pebisnis kecil, Agus Pramono adalah pahlawan sekaligus teladan yang mewakili cita-cita kalangan pebisnis kaki lima untuk meraih kesuksesan. Hidup makmur berkecukupan dari hasil wirausaha.

“Sejak awal saya memilih lebih baik kecil menjadi bos daripada besar jadi kuli. Prinsip inilah yang membuat saya terpacu untuk bekerja terbaik dan selalu memiliki keinginan untuk membangun bisnis,” ujarnya.

Pengusaha Harus Malas

Dalam sebuah workshop kewirausahaan yang diselenggarakan Sahabat  UKM di Cileduk, Tangerang, Banten,  awal  Juni lalu, Mas Mono, demikian ia akrab dipanggil mencoba menggali keinginan paling dasar  para pebisnis kecil untuk mencoba memperbesar usaha.

Prinsipnya menjadi pengusaha itu, menurut Mas Mono harus malas. Malas di sini bukan berarti malas bekerja, tetapi malas kalau mempunyai usaha hanya satu. Malas kalau memiliki usaha hanya beromzet ratusan juta.

“Karena saya malas memiliki satu usaha Ayam Bakar Mas Mono dengan hanya satu cabang, akhirnya saya membuka dua cabang. Malas mempunyai lima cabang akhirnya memiliki 14 cabang seperti sekarang. Malas hanya memiliki usaha ayam bakar, akhirnya saya membuka usaha bakso, membuka lagi pecel lele, dan bahkan saya akan bermalas-malas lagi supaya dapat membuka lebih banyak usaha yang lain,” cetusnya.

Untuk meningkatkan kemalasan, ia menyuruh seluruh karyawannya untuk mengkonsolidasikan diri agar lebih besar lagi. 

Sabtu 30 Mei 2009 lalu, team manajemen  Ayam Bakar Mas Mono Mengadakan gathering di Hotel Sofyan yang dihadiri ratusan karyawannya. Acara ini diadakan setiap setahun sekali ini bukan hanya diikuti oleh karyawan Ayam Bakar  Mas Mono, tetapi sudah bertambah karyawan lagi dengan dibukannya Baso Moncrot, Pecel Lele Lela dan yang terbaru adalah Es Teler Panglima.

“Tujuan diadakan gathering ini adalah untuk memberikan semangat dan motivasi kepada seluruh karyawan, dan tidak lupa ada beberapa door prize hadiah lainnya,” lanjut Mono.

Laiknya seperti sebuah perusahaan besar, pertemuan karyawan ini juga mengusung tema yang berjudul : Bersama Menikmati Kemakmuran.

“Alhamdulilah saya terpilih menjadi finalis di Dji Sam Soe Award 2009 dan lelaki sejati jadi Inspirasi ( Bentoel),” ujar mantan office boy yang kini jadi miliarder ini.

Bulan Juli 2009 mendatang, menurut lelaki kelahiran Madiun ini, Ayam Bakar Mas Mono akan dibuka di Rawa Mangun di depan Rawamnagun Square, dan ini merupakan  cabang yang ke-14.  Bakso Moncrot juga akan dibuka di  Jl. Pondok Kelapa No 31, yang merupakan cabang ke-3, Pecel Lele Lela akan buka di Jl. Tandean, dan merupakan Pecel Lele Lela cabang yang kelima.

“Sebentar lagi kami akan kepung Jakarta agar lebih dekat dengan pelanggan,” cetusnya.

Saat ini di sela-sela waktunya, Pramono yang merupakan owner Ayam Bakar Mas Mono, Owner Baso Moncrot,  Owner Pecel Lele Lela, Owner Es Teler Panglima, owner Mas Mono Cathering, ia juga Mentor Nasional Entrepreneur University,  Motivator di Perusahaan ASTRA Group, Honda, Toyota, dan perusahaan besar lainnya.

Ia selalu mengatakan berbisnis ada seninya. Ada ilmunya. Sesuatu yang didasari ilmu akan menjadi mudah, termasuk dalam hal berbisnis. Materi-materi seminarnya tentang bagaimana meledakan penjualan hingga 100%, promosi tanpa biaya malah dapat uang, membangun bisnis tanpa modal,  meningkatkan sitem usaha ( Bisnis anda jalan, sementara anda jalan-jalan), 3 kunci sukses pengusaha sukses, strategi marketing yang menjadikan bisnis anda mampu bersaing, selalu ditunggu-tunggu banyak orang. n